Suasana di Makkah pada Malam Hari
Arab Saudi Makkah

Seperti Apakah Suasana di Makkah?

Jika New York adalah kota yang tidak pernah tidur, maka Makkah adalah kota yang tidak pernah berhenti beribadah. Di setiap saat, khususnya di pusat kota, akan kamu dapati orang-orang datang dari berbagai penjuru, berjalan menuju ke Masjidil Haram, masjid dimana Ka’bah, kiblat umat Islam, berada. Selain itu, Kota Makkah juga merupakan salah satu pusat roda perekonomian, dimana disini bisa kamu dapati berbagai franchises berkelas internasional hadir di sekitaran tempat suci milik umat Islam ini. Mengagetkan, karena ternyata kota ini sangat mirip dengan kota metropolitan. Disini, orang-orang terlihat selalu bergerak, mereka berjalan menuju suatu tempat atau beranjak untuk membeli sesuatu. Makkah, it never stops!

Suasana Kota Makkah | Tidak Pernah Berhenti Bergerak
Makkah : Tidak Pernah Berhenti Bergerak

Iklim Kota Makkah

Panas luar biasa dan lembab, khususnya bila kamu datang di tempat ini ketika musim panas, sebagaimana musim-musim haji yang akan berlangsung di tahun-tahun ini.

Iklim Kota Makkah
Kredit : Wikipedia

#P.S. Disini, sangat penting sekali untuk membawa krim pelembab untuk melembabkan kulit di ujung tumit atau jari-jari yang kering dan pecah, karena bila dibiarkan akan terasa sangat menyakitkan (baca juga : Barang-Barang yang Perlu Kamu Bawa Ketika Berhaji).

Suasana di Pusat Kota Makkah

Makkah selalu hidup. Pusat-pusat perbelanjaan yang ada disana sini selalu penuh. Masjidil Haram biasanya juga ramai, dan akan memuncak semakin penuh dan padat bila waktu sholat akan tiba, dimana ketika itu, orang-orang akan datang berbondong-bondong menuju ke Masjidil Haram dan memenuhinya.

Pada waktu-waktu ini, seringkali para askar akan membuat batas dari balok-balok pembatas berwarna hijau pada pintu-pintu tertentu untuk menghindari kepadatan. Saran dari saya, jika pintu masuk sudah ditutup oleh para askar, segeralah cari pintu-pintu lain yang masih terbuka, jangan memaksakan diri untuk meloby mereka agar mengizinkanmu masuk melalui pintu tersebut, karena menurut pengamatan saya, peluang kamu diijinkan untuk masuk melalui pintu itu hampir mendekati nol alias percuma, jadi teruslah bergerak dan berjalan mencari tempat masuk lainnya.

Pada waktu jum’at, saya selalu berusaha untuk datang ke Masjidil Haram lebih awal, sekitar dua jam sebelum waktu sholat tiba. Pada waktu-waktu ini, masjid akan penuh sekali, perlu waktu ekstra untuk mendapatkan tempat di dalam Masjid. Sekalipun kita sudah berhasil masuk ke dalam Masjid, namun belum tentu kita boleh langsung duduk. Ada garis pembatas berwarna hijau yang menunjukkan dimana kita boleh duduk dan berdzikir, sambil menunggu waktu sholat. Jika kita duduk di luar dari tempat yang sudah disediakan, maka bersiaplah untuk “diusir oleh para askar yang akan dengan sigap melakukan tugasnya. Dan jika mereka menyuruhmu berdiri, segeralah berdiri dan berjalan untuk mencari tempat lain, karena hampir-hampir, mereka tidak pernah mau tau apapun alasan yang kamu punya untuk tetap duduk disana.

Di Makkah ini, apa yang saya rasakan adalah : saya terus berjalan dan berjalan, rasanya hampir tidak pernah ada masa untuk beristirahat. Begitupun dengan orang-orang lain yang saya lihat. Mereka terus menerus bergerak, hampir tidak ada atmosfer untuk sekedar relaks menikmati masa. (Hal yang saya temukan berbeda ketika saya berada di Madinah)

Padatnya Makkah sangatlah luar biasa. Pernah suatu kali, begitu selesai sholat, saya langsung bergegas menuju keluar, dan apa yang saya lihat kala itu sangatlah mengejutkan. Ribuan, puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu orang terlihat berjejal memenuhi salah satu jalan yang mengarah ke Masjidil Haram.

Ratusan Ribu Orang Memenuhi Jalan

Melihat kondisi yang seperti ini membuat saya berpikir untuk lebih baik menunggu selama setengah jam atau lebih di dalam masjid agar kepadatan jalan ketika keluar dari Masjidil Haram berkurang, dan saya bisa bergerak keluar dengan lebih cepat.

Namun, meskipun kota ini penuh dan di dalam pusat perbelanjaan orang-orang begitu sibuk saling tawar-menawar barang. Begitu Adzan dikumandangkan – lima kali sehari, tanpa dikomando, orang-orang akan segera menutup toko-tokonya, dan segera keluar dari mall, mencari tempat untuk melakukan sholat. Jika ada tempat yang tersedia, baik itu di trotoar maupun di tengah jalan, maka seseorang akan mengambil tempat itu dan melakukan sholat disana. Semua aktivitas terhenti ketika sholat wajib 5 kali sehari berlangsung, dan ketika sholat telah selesai didirikan, kepadatan akan segera menyebar dan kesibukan di kota inipun berlanjut.

Kesibukan Kota Makkah

Toko-toko yang ada di sekitar tempat ini sangatlah banyak. Mulai dari toko yang menjual kurma, parfum, sampai bahkan emas pun ada dan ramai. Disini, ada satu supermarket terkenal yang dinamakan Bin Dawood, yang menjual hampir apa saja : buah-buahan, bahan makanan, pakaian, obat-obatan, sandal, dll.

Perlu diketahui, rakyat Indonesia sepertinya juga perlu berbangga hati. Karena, hampir-hampir jika kita pergi ke suatu toko, mereka dapat menawarkan barang dagangan mereka dalam Bahasa Indonesia. Kadang disini saya bingung, pernah suatu kali saya bertanya dengan Bahasa Inggris, mereka jawab dengan Bahasa Indonesia..hehe. Mungkin karena umat Islam di Indonesia adalah yang paling besar di dunia, dan mereka paling banyak datang mengunjungi kota ini, orang-orang disini mulai belajar bagaimana menggunakan Bahasa Indonesia.

Mata Uang yang Dipakai

Mata uang yang dipakai di Arab Saudi adalah Riyal, akan tetapi mereka tidak terlalu menggunakan “sen” pada mata uangnya. Secara resmi, satu “sen” disana disebut satu “halalah“, akan tetapi barang-barang yang ada hanya akan dihargai dengan Riyal saja, sangat jarang dihargai dengan halalah.

Mata Uang Riyal
Kredit : Wikipedia

Pemandangan Lain yang Saya Lihat

Ketika saya berjalan menuju ke Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat wajib, pemandangan umum yang selalu saya dapati adalah, unfortunately, banyaknya pengemis duduk di tengah-tengah jalan. Mereka umumnya adalah anak-anak, perempuan, dan hampir selalu berasal dari Afrika. Mereka, dengan bagian tubuh yang hilang, menampilkan puntung organ tubuh mereka yang hilang tersebut sambil meminta sedekah. Hal ini sangat umum dapat ditemukan di jalan-jalan yang biasanya ramai dilalui oleh para jama’ah.

Jujur, saya tidak terlalu peduli akan hal ini, jika saya ingin bersedekah, saya lebih suka memberikan kepada para petugas yang membersihkan jalan dan petugas-petugas lain yang bertanggung jawab terhadap kebersihan di dalam Masjid, yang sepertinya kebanyakan dari mereka berasal dari Bangladesh dan Pakistan.

Scam lain yang populer disini (kalau boleh saya bilang) adalah, jika kamu sedang duduk di dalam Masjid, mungkin akan datang seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahmu dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Awalnya saya tidak terlalu curiga, namun setelah itu, mereka akan menanyakanmu menggunakan bahasa Inggris, atau bahkan bahasa Indonesia, “kamu berasal dari Indonesia?”, dan kemudian berlanjut menjelaskan kondisi mereka yang agaknya menyedihkan (ntah benar, atau karangan, saya tidak tahu), yang pada intinya they demand your money, dan setelah kamu beri, mereka akan langsung bergegas pergi. Kejadian ini tidak saya alami satu kali saja, tapi berkali-kali. Pernah saya duduk dengan kawan saya yang berasal dari Thailand, rupanya kawan saya ini mempunyai trick unik. Ketika ada salah satu dari orang-orang ini datang dan meminta sedekah, kawan saya bukannya memberikan uang, namun dia malah memberikan permen menthol sebagai sedekahnya…hehehe..

Makanan dan Minuman

Adalah di Makkah, saya menyadari betapa masyarakat Arab Saudi sangat menyukai ayam goreng. Terdapat berbagai toko yang menjual ayam goreng yang disana disebut sebagai broast ini. Namun, tentu saja yang paling terkenal di seantero jazirah ini adalah Al Baik, mengalahkan franchise-franchise internasional lain, seperti KFC (baca juga: Al Baik : Tidak Seorangpun Bisa Berkata Tidak).

Jika menginginkan menu yang murah dan cukup mengenyangkan, di Makkah terdapat banyak toko yang menjual shawarma (doner kebab). Hanya dengan sekitar 3-5 SAR saja, kamu bisa mendapatkan jenis sandwich ini. Selain itu, jika kamu rindu masakan melayu, di As Safwa Food Court yang ada di mall yang terletak tepat di belakang WC pria nomor 2 di sekeliling Masjidil Haram, terdapat restoran Malaysia Felda D’Saji yang menyediakan berbagai varian masakan melayu.

Selain itu, di komplek Zamzam Tower, terdapat juga restoran Indonesia yang menyatu dengan GraPari Telkomsel, yang terletak di Zamzam Tower Lt. P3 areal Food Court. Namun, karena harganya yang a bit pricey bagi saya, saya belum pernah makan di tempat ini.

Saya pribadi, selain makan di tempat penginapan (tentu saja), lebih suka mencari pengalaman mencari menu makanan yang unik. Saya mencoba mencari nasi biryani, memakan kari dengan mencelupkan Chapati / Nan, mencoba martabak khas sini, dan lain-lain.

Satu hal yang saya rekomendasikan bagi para pembaca, cobalah membeli teh tarik atau teh susu khas Arab Saudi. Teh yang disajikan panas-panas ini rasanya bagi saya seperti pengobat rasa lelah, dan rasanya akan lebih mantap lagi bila dicelup dengan roti yang dihargai 1 real saja.

Makanan di Makkah

Selain dari semua itu, franchise-franchise lain yang dapat kamu temui di Indonesia, sepert Starbuck pun dapat dengan mudah dijumpai di sekitaran Masjidil Haram, dan bahkan saya akhirnya bisa mencoba es krim Baskin Robbins, yang di tempat lain, saya masih meragukan kehalalannya.


Ada banyak cerita lagi sebetulnya yang saya ingin bagikan mengenai cerita di Makkah, dan insyaallah hal ini akan saya ceritakan di kesempatan lainnya. Semoga apa yang saya tulis disini dapat menjadi gambaran mengenai apa-apa yang ada di Makkah sana 🙂


Comments

comments

Tinggalkan Balasan Anda Disini