Kabupaten Wonosobo | Wonosobo Asri
Indonesia Wonosobo

Menjelajahi Indahnya Wonosobo di Akhir Pekan

Sekilas tentang Wonosobo

Wonosobo adalah nama sebuah kabupaten yang terletak di bagian tengah provinsi Jawa Tengah. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di sebelah timur, Kabupaten Purworejo di sebelah selatan, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara di sebelah barat, serta Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di sebelah utara.

Kabupaten yang terletak di daerah pegunungan berhawa sejuk ini menyimpan permata tersembunyi. Sekalipun untuk menuju ke tempat ini, diperlukan perjuangan ekstra. Namun, hal ini tidak menyurutkan para wisatawan untuk mengunjunginya. Nah, apa saja yang dapat kawan kunjungi jika datang ke Wonosobo, khususnya di akhir pekan? Simak terus disini.

Cara Menuju ke Wonosobo

Jika kawan berangkat dari Jakarta dan ingin menjelajahi tempat-tempat wisata di Wonosobo, ada dua alternatif transportasi umum yang dapat kawan gunakan.

Jika menggunakan Kereta Api, maka stasiun yang paling dekat dengan Kabupaten ini adalah Stasiun Purwokerto. Dari Stasiun Purwokerto, maka perjalanan menuju ke Wonosobo dapat kawan lanjutkan dengan naik angkutan kota menuju ke Terminal Purwokerto, dan kemudian mencari bus jurusan Wonosobo dari Terminal Purwokerto tersebut. Perjalanan dengan menggunakan kereta dari Jakarta menuju ke Purwokerto insyaallah dapat ditempuh kurang lebih selama 5 jam lebih, dan dari Terminal Purwokerto menuju Kota Wonosobo kurang lebih selama 3 jam.

Jika menggunakan Bus Umum, terdapat banyak sekali pilihan bus yang dapat kawan pilih, seperti Sinar Jaya, Damri, dan lain-lainnya yang tersebar di berbagai terminal ataupun agen bus yang ada di Jakarta. Namun, perlu diketahui, karena perjalanan dengan menggunakan bus sangat bergantung dengan kondisi jalan dan perjalanan itu sendiri, maka waktu tempuhnya akan bervariasi, bisa hanya 10 jam, bahkan bisa sampai 17 jam atau lebih (pernah saya alami soalnya hehe).

Bus Damri tujuan Wonosobo
Kredit : Kompasiana

#P.S. Jika menggunakan bus, maka dari jaman kuliah dulu, saya kerap menggunakan bus Sinar Jaya yang bertolak dari daerah Pasar Minggu.

Tempat Penginapan

Jangan khawatir, baik di daerah sekitar kota Wonosobo maupun di Pegunungan Dieng, terdapat banyak homestay yang dapat kawan cari dan pilih sendiri. Saran pribadi dari saya, jika kawan ingin menikmati golden sunrise dari bukit Sikunir, lebih baik kawan mencoba mencari tempat penginapan yang berada di dekat lokasi bukit Sikunir, atau penginapan-penginapan lain yang berada di daerah Pegunungan Dieng, bukan di kota Wonosobo. Sekalipun disana hawanya sangat dingin, namun hal ini akan jauh lebih mempermudah akses kawan menuju ke Bukit Sikunir tersebut, dan tentu, kawan tidak perlu bangun dini hari untuk mengejar fenomena golden sunrise yang menakjubkan.

Jelajah Wisata Wonosobo di Akhir Pekan

Nah, untuk menjelajahi Wonosobo di akhir pekan, ada baiknya kawan mem-book motor atau mobil dari tempat penyewaan motor atau mobil yang ada di kota ini. Karena untuk menjelajah objek-objek wisata di daerah ini, akan jauh lebih mudah jika menggunakan kendaraan pribadi. Nah, apa saja yang dapat kawan kunjungi di akhir pekan di Wonosobo?

1. Telaga Menjer

Kebanyakan wisatawan akan berpikir tentang Pegunungan Dieng ketika berbicara mengenai objek wisata yang ada di Wonosobo. Namun, sebelum mencapai Dieng, ternyata ada satu objek wisata alam yang sering dilewatkan para wisatawan, padahal kawan dapat lanjutkan perjalanan menuju Dieng dengan melewati tempat wisata ini sebelumnya.

Arah Dieng dari Telaga Menjer
Dieng dapat ditempuh dengan melewati Telaga Menjer

Telaga ini terletak di desa Maron, kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, sekitar 12 kilometer di sebelah utara Kota Wonosobo.

Begitu sampai di tempat ini, maka kesan pertama yang akan kawan rasakan adalah : hijau dan teduh. Suhu udara terasa nyaman dan tidak terlalu dingin. Dari atas, akan dapat kawan lihat, telaga alami berwarna hijau seluas sekitar 70 hektar yang pada mulanya terbentuk akibat dari letusan vulkanik di kaki Gunung Pakuwaja ini. Hijau, asri, dan bersih, benar-benar memanjakan mata!

Telaga Menjer dari Atas

Saya tidak begitu tahu, berapa harga tiket resmi untuk mengunjungi tempat ini. Namun, kala saya datang ke tempat ini, dan memarkirkan motor, ada seseorang yang datang dan langsung menarik biaya sebesar 10.000 untuk dua orang :(. Jadi, persiapkanlah uang sebesar itu sebelumnya dan mungkin akan jauh lebih murah jika kawan mendapatkan karcis resmi.

Selain berkeliling di pinggiran telaga, kawan juga dapat mencoba untuk berkeliling telaga dengan menggunakan perahu yang ada di sekitaran telaga dengan menyewanya. Ketika saya bertanya berapa biaya sewanya, seseorang menjawab sebesar 15.000 per orang jika ada satu kelompok berisikan 10 orang. Mungkin harga ini masih bisa ditawar.

Menyewa Perahu di Telaga Menjer

2. Komplek Candi Arjuna

Selesai berkeliling kawasan Telaga Menjer, perjalanan dapat kawan teruskan menuju Pegunungan Dieng. Daerah Pegunungan Dieng inilah yang jadi sasaran utama para wisatawan mengunjungi Wonosobo. Nah, tempat selanjutnya yang patut untuk dikunjungi adalah Komplek Candi Arjuna, yang secara geografis sebenarnya masuk di daerah administratif Kabupaten Banjarnegara.

Komplek Candi Arjuna terdiri dari beberapa candi yang kesemuanya diberi nama berdasarkan tokoh-tokoh pewayangan. Di komplek ini, selain Candi Arjuna, terdapat pula Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Kawasan komplek candi ini tidaklah terlalu luas, sehingga sebenarnya tidak butuh waktu lama untuk mengelilingi seluruh komplek dan berfoto-foto di sekitarnya.

Komplek Candi Arjuna

3. Kawah Sikidang

Tempat kedua di kawasan Pegunungan Dieng yang harus kawan kunjungi adalah Kawah Sikidang. Kawah yang masih menunjukkan aktivitas vulkanik ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan, dimana di tempat ini kawan dapat melihat lumpur panas yang meletup-letup, diiringi dengan keluarnya gas berwarna putih pekat yang mengepul di udara, ditambah dengan bau belerang yang khas menyengat.

Karena terletak di tempat yang relatif datar, berwisata ke tempat ini akan menjadi pengalaman yang menarik bagi kawan semuanya, dimana kawan bisa melihat langsung dengan jelas aktivitas vulkanik tanpa harus mendaki gunung. Warna tanah yang memutih akibat kandungan sulfur, diliputi gas berwarna putih yang keluar dari kawah, serta backdrop langit cerah berwarna biru akan membuat gambar-gambar yang kita ambil akan terlihat begitu mempesona.

Aktivitas di Kawah Sikidang

4. Telaga Warna dan Telaga Pengilon

Tempat terkenal lain di kawasan Pegunungan Dieng yang harus kawan kunjungi adalah Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang keduanya letaknya berdekatan.

Telaga Warna

Telaga Warna terkenal karena keindahan warna permukaannya yang dapat berubah-ubah, bergantung pada cuaca, sudut pandang dan jarak pandang. Terkadang, telaga ini berwarna biru, hijau, putih kekuning-kuningan, dan lain sebagainya. Hal ini dikarenakan tingginya kandungan sulfur di dasar telaga. Saat terkena cahaya matahari, pembiasan yang terjadi dapat membentuk warna-warna indah ini. Karena fenomena unik inilah, banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjunginya.

Di sebelah Telaga Warna, terdapat pula Telaga Pengilon (Pengilon = Cermin dalam bahasa Jawa). Nah uniknya, meski telaga ini terletak bersandingan dengan Telaga Warna, airnya tidak terpengaruh oleh air Telaga Warna. Warna air tetap jernih karena kandungan sulfurnya yang rendah, tidak seperti Telaga Warna.

Telaga Pengilon

Kawasan Telaga Warna dan Telaga Pengilon ini cukup luas. Butuh waktu agak lama untuk menjelajahi sekelilingnya. Tambahan pula, kawan dapat menikmati indahnya view dua telaga ini dari atas. Tempat yang paling terkenal untuk menikmati pemandangan kedua telaga tersebut dari atas adalah di Batu Ratapan Angin yang terletak di sisi sebelah timur Telaga Warna.

Batu Ratapan Angin, Dieng
Batu Ratapan Angin | Kredit : Dieng Saba Tour

Nah, belum selesai nih, di tempat ini juga ada sesuatu yang baru : Jembatan Merah Putih. Dari sini, kawan dapat melihat keindahan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari atas jembatan yang baru saja diselesaikan pembuatannya pada Mei 2016 silam. Jembatan yang berupa jembatan gantung ini menyajikan sensasi tersendiri ketika kawan coba melintasinya. Bagaimana tidak, sensasi goyangan akan terasa begitu kaki menyentuh petak-petak balok penyusun jembatan yang membentang sepanjang 26 meter yang menghubungkan dua buah bukit yang terletak di atas Batu Ratapan Angin.

Tempat ini hitz banget, banyak pengunjung yang mengabadikan gambar mereka di tempat ini. Ah, siapa yang tidak tertarik!

Jembatan Merah Putih
Jembatan Merah Putih | Kredit : Dieng Saba Tour

Selain empat objek wisata di atas, di hari pertama, dapat kawan kunjungi pula objek-objek wisata lain yang ada di sekitar Pegunungan Dieng, seperti Dieng Plateau Theater, dimana di tempat ini kawan dapat menyaksikan sebuah film tentang Dataran Tinggi Dieng, mulai dari sejarah, kondisi geografis, budaya, serta hal-hal lain, ataupun dapat pula kawan coba berkeliling mengunjungi komplek-komplek candi lain, seperti Komplek Candi Gatotkaca.

Di malam hari, jika tahan dingin tentu saja, cobalah keluar dari tempat penginapan dan tataplah langit. Jika cuaca cerah, insyaallah dapat kawan nikmati dengan jelas ribuan bintang-bintang yang bertebaran di angkasa. Atau kalau terasa lapar, dengan sepeda motor, cobalah cari warung yang menjual bakso di pinggiran jalan, insyaallah lezatnya bakso dapat membuat dinginnya malam di Pegunungan Dieng ini semakin dapat kawan nikmati.

Namun, jika sudah tidak ada aktifitas apa-apa lagi, ada baiknya untuk segera menarik selimut dan bergegas untuk tidur, karena masih ada satu agenda lagi yang paling penting yang harus kawan coba ketika berwisata ke Dieng : melihat golden sunrise di Bukit Sikunir.


5. Menyaksikan Golden Sunrise di Bukit Sikunir

Sekitar jam setengah 4 pagi (jika kawan menginap di sekitar kawasan Dieng, bukan di sekitar Bukit Sikunirnya), kawan harus siap untuk bangun dan bergegas menuju ke Sikunir. Dengan menggunakan sepeda motor atau mobil, perjalanan ke lokasi tempat parkir di sekitar Telaga Cebong akan memakan waktu sekitar 15 sampai 30 menit. Nantinya, ketika menuju ke Sikunir, kawan akan lewati desa tertinggi di Pulau Jawa : Desa Sembungan.

Dari tempat parkir, pendakian ke Puncak Sikunir dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 30 menit hingga 1 jam pendakian. Namun, penerangan yang belum sepenuhnya memadai mengharuskan kawan untuk bersiap membawa alat penerang tambahan sendiri. Jangan lupa pula untuk menyiapkan pakaian tebal, karena suhu yang dingin dapat terasa menusuk sampai ke tulang.

Nah inilah dia, jika Allah menakdirkan, maka kawan dapat saksikan sendiri golden sunrise yang begitu cantik dari Bukit Sikunir ini!

Golden Sunrise Sikunir
Golden Sunrise Sikunir | Kredit : Dieng Saba Tour

Nah, memukau bukan? Karena kecantikan golden sunrise dan juga medan yang tidak terlalu sulit untuk di tempuh, bukit ini menjadi ramai dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dan jangan heran, bila untuk turun dari bukit ini nanti, kawan diharuskan untuk bersabar, karena saking banyaknya orang hadir disini 🙂

Pendakian Bukit Sikunir

Selesai menyaksikan fenomena golden sunrise, sambil menunggu agar jalan turun dari bukit menjadi agak longgar, cobalah untuk menyaksikan Telaga Cebong dari atas bukit ini. Pengalaman melihat golden sunrise dan melihat view pemandangan sekitar dari Bukit ini mungkin tak akan pernah kawan lupakan!

Telaga Cebong dari Bukit Sikunir

Selesai dari tempat ini, maka kawan dapat segera kembali ke homestay untuk mandi, kemudian sarapan dan mungkin segera check out.

6. Mencicipi Kuliner Lokal

Berkunjung ke Wonosobo, tak lengkap rasanya bila tidak mencoba makanan khasnya, yaitu Mie Ongklok. Mie rebus yang dibuat dengan racikan khusus menggunakan kol, potongan daun kucai, dan kuah kental berkanji ini akan terasa lebih lengkap bila dinikmati bersama dengan sate sapi ataupun gorengan khas Wonosobo, yaitu tempe kemul. Kuah mie ongklok yang segar, ditambah dengan empuknya sate sapi, serta kriuknya tempe kemul hmmmm….rasanya benar-benar mampu menggugah selera!

Untuk menikmati satu porsi mie ongklok, kawan hanya perlu merogoh kocek sebesar 8000 rupiah saja. Nah, jika sate sapi ingin di tambahkan ke dalam menu, maka bersiaplah untuk merogoh kocek lagi sebesar 20.000 untuk sepuluh tusuk sate.

Mie Ongklok Wonosobo

Setidaknya, ada dua warung terkenal di Kota Wonosobo yang menjual mie ongklok ini. Yang pertama adalah Warung Mie Ongklok Longkrang yang terletak di :

Jalan Pasukan Ronggolawe No. 14 Longkrang, Wonosobo
 
Mie Ongklok Longkrang

Dan yang kedua adalah Mie Ongklok Bu Umi yang beralamatkan di

Jalan Masjid No. 11 Kauman Utara, Wonosobo

Mie Ongklok Bu Umi

Nah, setelah selesai menyantap makanan lokal khas Wonosobo, jangan lupa pula untuk berkunjung ke toko yang menjual oleh-oleh khas daerah dingin ini. Saran saya, cobalah membeli manisan Carica yang bentuknya seperti pepaya. Rasanya yang manis akan terasa lebih segar bila dinikmati dalam kondisi dingin. Selain carica, oleh-oleh khas wonosobo lain yang dapat dibeli antara lain, keripik jamur, kacang koro, keripik kentang dan satu yang saya suka : pe-tos (tempe atos atau tempe keras) yang merupakan versi mini dari tempe kemul hehe

Oleh-Oleh Wonosobo
Pe-tos yang di rak tengah ya..

Nah, bagaimana? setelah membaca artikel ini, apakah kawan tertarik untuk mengunjungi Kota tempat dimana saya lahir? Jika iya, semoga artikel ini dapat menjadi sumber inspirasi rencana jalan-jalan kawan-kawan semuanya. Jika ada pertanyaaan, silakan jangan ragu untuk meninggalkan komentar di bawah ini. Semoga berman’faat ^^

#P.S. Untuk kawan-kawan yang membutuhkan solusi praktis berwisata ke Wonosobo di akhir pekan, tanpa perlu repot-repot mem-book penginapan atau pusing masalah transportasi, boleh kawan follow akun Dieng Saba Tour ini dan kemudian hubungi contact person yang tertera disana. Insyaallah kawan dapat nikmati keindahan Wonosobo dengan harga yang terjangkau. See you there! 🙂


Comments

comments

Tinggalkan Balasan Anda Disini