La Grande Mosquee de Paris | View from Front
Eropa Paris

Mengagumi Arsitektur Mewah La Grande Mosquee de Paris

Sekilas Paris

Selain Vienna (baca juga : Berkunjung ke Vienna Islamic Center Austria), Paris adalah tempat dimana saya dengan begitu mudahnya menemukan makanan halal dan lalu lalang perempuan yang mengenakan jilbab, ketika saya melakukan perjalanan berkeliling Eropa dengan menggunakan kereta api (baca juga : Keliling Eropa dengan Kereta Api? Siapa Takut!). Sekalipun banyak hal tidak mengenakkan terjadi pada komunitas muslim di Perancis, seperti isu pelarangan burkini yang muncul belakangan ini. Namun hal-hal yang saya khawatirkan pada saat melakukan traveling as a muslim, sama sekali tidak terjadi di kota ini. Saya bersama dengan kakak saya yang mengenakan jilbab dapat berjalan berlalu lalang kesana kemari dengan tenang baik di dalam maupun di luar Paris Metro. Sama sekali tidak ada yang mengganggu (ya kecuali mungkin beberapa orang yang menyodor-nyodorkan kertas meminta tanda tangan kami, sebagai orang asing, yang sama sekali tidak kami hiraukan).

Makanan halal pun dapat dengan mudah saya temui di sana sini. Di sekitar blok tempat saya menginap (yaitu di dekat stasiun metro Voltaire), sekali jalan berkeliling blok, saya bisa temukan lebih dari lima toko yang menjual makanan halal. Mulai dari toko yang menjual kebab Turki, masakan India, Pizza bahkan sampai fast food pun dapat saya temui di sekitaran. Begitu mudah, begitu nyaman.

Saya suka Paris, namun Vienna tetap di hati hehehe

Nah, seperti apa pengalaman saya mengagumi kemewahan arsitektur La Grande Mosquee de Paris, mari simak disini!

Sejarah La Grande Mosquee de Paris

Mosquee de Paris diresmikan pada tahun 1926 sebagai bentuk rasa terima kasih setelah Perang Dunia I, kepada Muslim tirailleurs yang berasal dari Kerajaan Kolonial Perancis, dimana pada saat itu sekitar 100.000 orang meninggal akibat peperangan melawan Jerman. Masjid ini dibangun mengikuti gaya Hispano-Moresque dengan minaretnya yang menjulang tinggi setinggi 33 meter. Masjid ini, diresmikan oleh Gaston Doumergue pada tanggal 15 Juli 1926. Ahmad al-Alawi (1869 – 1934) yang berasal dari Algeria memimpin sholat jama’ah pertama sebagai tanda diresmikannya masjid ini di hadapan Presiden Perancis kala itu. 

La Grande Mosquee de Paris | Minaret
Minaret La Grande Mosquee de Paris

Alamat La Grande Mosquee de Paris

La Grande Mosquee de Paris terletak di :

2 bis Place du Puits de l’Ermite 75005 Paris

#Cara menuju ke tempat ini : Naiklah Paris Metro, turunlah di stasiun Place Monge atau Censier – Daubenton (jangan lupa download peta offline terlebih dahulu jika tidak ada koneksi internet, karena saya tidak menemukan tanda penunjuk arah menuju ke masjid)

#Website : mosqueedeparis.net

Ketakjuban Saya akan Arsitektur La Grande Mosquee de Paris

Kala itu, saya dan kakak saya memang merencanakan pergi ke Mosquee de Paris, dengan niatan ingin melaksanakan sholat dzuhur berjama’ah di tempat ini. Kami berangkat dari stasiun metro Voltaire menuju ke stasiun metro Place Monge. Di lanjutkan dengan berjalan kaki, akhirnya kami sampai di tempat ini.

Kagum, tentu saja. Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali melihat bangunan megah berupa masjid di depan saya, yang terletak di persimpangan jalan ini.

La Grande Mosquee de Paris | View from Front

Dari point of view di titik tempat saya mengambil gambar di atas, saya mengira, area yang mencakup masjid ini tidak terlalu luas. Namun pada akhirnya, persepsi saya terbantahkan ketika saya menyusuri jalan dan bergerak menuju ke dalam masjid. Dari jauh, minaret setinggi 33 m tampak begitu mencolok. Inilah dia, akhirnya saya kembali berkesempatan untuk menjejakkan kaki saya ke dalam sebuah masjid di luar sana.

La Grande Mosquee de Paris | Minaret Tinggi

Saya belum pernah ke Maroko, namun dari gaya arsitekturalnya, saya rasa masjid ini mempunyai rasa yang hampir sama dengan masjid-masjid yang ada di Maroko sana. Namun, entahlah, ketika berjumpa dengan seseorang yang berasal dari Algeria, beliau menyebutkan bahwa masjid ini mengikuti gaya arsitektural negaranya. Namun, ketika saya mencari informasi di internet, gaya arsitektural dari masjid ini mengikuti gaya Hispano-Moresque (nah lho, please don’t ask..hehe)

Nah, jika kawan telah masuk ke pintu utama, maka hal pertama yang akan kawan lihat adalah taman yang cantik beralaskan lantai berwarna hijau yang ditutupi oleh rimbunnya pepohonan di sekitarnya. Sungguh sebuah pemandangan langka yang mungkin tidak akan pernah saya temui di masjid-masjid yang ada di Indonesia.

La Grande Mosqee de Paris Garden

Masjid ini didominasi oleh warna cokelat dan hijau dan dihiasi dengan pernak pernik mosaik berwarna warni dan juga struktur-struktur indah yang membuat saya berkali-kali berdecak kagum. Sambil menekan shutter kamera yang saya bawa, alhasil, beberapa jepretan gambar pun saya abadikan.

Pernak Pernik Mosaik

Memasuki area untuk sholat, terdapat penanda dari kertas yang menunjukkan dimana tempat wudhu perempuan, tempat wudhu laki-laki dan tempat sholat bagi perempuan, yang kesemuanya ditulis tanpa ada bahasa Inggris disana. Hal yang bagi saya agak cukup membingungkan, karena sholat dalam bahasa Perancis ditulis macam “Salee” atau apa saya lupa :D.

Nah, tempat sholat pria terletak di bagian lantai dasar Masjid, sedangkan tempat wudhu pria terletak di bagian basement, pun demikian dengan tempat sholat untuk perempuan.

Kaligrafi La Grande Mosqee de Paris

Sebelum memasuki area utama pelaksanaan sholat, kembali saya dibuat kagum lagi dengan adanya area seperti kolam berair mancur, yang pada saat itu sedang tidak menyala airnya. Area Sebelum Masuk Tempat Sholat

Nah, bagaimana ruang utama untuk pelaksanaan sholat? Ruangan yang cukup luas beralaskan karpet berwarna hijau ini sejatinya menurut saya cukup gelap, namun struktur yang terbuat dari kayu di atas tempat sholat ini begitu mengesankan!

Area Utama Mosquee de Paris

Ketika pelaksanaan sholat dzuhur dimulai, jama’ah yang datang ke tempat ini pun terbilang cukup ramai. Ya, ada sensasi tersendiri yang saya rasakan ketika menjadi orang asing di tempat ini, karena hanya saya dan beberapa orang saja yang berasal dari Asia Tenggara, yang ikut memakmurkan pelaksanaan sholat dzuhur kala itu. Namun, hal inilah yang saya suka dari Islam, meski tonal warna kulit kami berbeda, suku dan asal negara dan bahasa kami pun berbeda, namun hal itu bukanlah penghalang, saya tetap merasa di terima di komunitas ini.

Arsitektural Grande Mosquee de Paris

Saya terkesima dan takjub dengan keindahan masjid ini. Saya pun salut dengan jama’ah yang berkenan dan bersedia hadir ke tempat ini untuk menunaikan sholat dzuhur.

Kadang saya berpikir, mungkin inilah sesuatu yang seringnya kita take it for granted. Dengan banyaknya masjid-masjid yang menjamur di sekitar tempat kita tinggal sekarang ini, tak jarang menjadikan Rumah Allah tersebut, bukan sebagai sebuah tempat yang istimewa. Tak pelak, ketika pelaksanaan sholat tiba, jama’ah yang datang pun sedikit dan hanya “itu-itu” saja. Traveling ke luar negeri membuka mata saya untuk selalu bersyukur, betapa mudahnya beribadah disini, di tempat ini.

#P.S. Masjid ini mempunyai kantin halal, jadi tidak perlu bimbang mencari tempat makan jika lapar.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan Anda Disini