Masjid Selat Malaka
Malaka Malaysia

Masjid Selat Malaka dan Garis Batas

Kembali ke zaman sekolah dasar dulu, teringat pelajaran yang disampaikan oleh guru SD saya bahwa ada garis pembatas yang memisahkan Indonesia dan Malaysia, dan kembali mengulang pelajaran sejarah, dahulunya, garis batas ini adalah salah satu titik paling sibuk di seluruh dunia, dimana perdagangan dan aktivitas lain terjadi disini. Titik ini, Selat Malaka namanya dan alhamdulillah saya pernah menginjakkan kaki di kota yang menawan ini.

Perjalanan dari Singapura ke Malaka Menggunakan Bus

Untuk keluar dari perbatasan Singapura, saya menggunakan bus 707 Express yang berangkat dari terminal Queen Street yang sebelumnya telah saya book melalui busonlineticket.com. Dua kali melewati imigrasi, akhirnya saya memasuki tanah Malaysia, dan tujuan saya kala itu adalah terminal Bus Malaka Sentral. Nah, Jika di Singapura saya merasa agak kesusahan dalam masalah makanan, alhamdulillah, berada di Malaysia, saya merasa tenang. Begitu tiba di terminal Malaka Sentral, untuk mencapai pusat kota saya harus kembali menggunakan bus umum bernomor 17, yang mengantarkan saya ke seputaran Dutch Square, sebuah lapangan yang didominasi bangunan-bangunan bercat merah disekelilingnya.

Dutch Square Malaka
Dutch Square | Kredit : jvernetta

Jika ingin mengeksplor kota Malaka, waktu selama satu hari sebetulnya sudah sangat cukup. Lokasi objek-objek wisatanya yang dekat – kebanyakan berupa bangunan-bangunan peninggalan zaman penjajahan – membuatnya sangat mudah dan nyaman untuk berkeliling menikmati Malaka sembari berjalan kaki. Jika akhir pekan tiba, deretan jalan sepanjang Jonker Street pun akan dipadati manusia yang berjubel memenuhi jalanan yang berubah menjadi pasar ini.

 

Jonker Street Malaka
Jonker Street | Kredit : hnna.lnz

Malaka menarik, penduduknya yang multikultur membaur di satu tempat. Jika ada waktu, saya sangat menyarankan untuk menghabiskan akhir pekan kawan semua di tempat yang menjadi salah satu situs warisan budaya UNESCO ini.

Masjid Selat Malaka di Perbatasan Malaysia – Indonesia

Dari kesemua hal yang dapat ditemui di Malaka, ada satu tempat yang sungguh sangat menarik hati saya untuk datang mengunjunginya. Di tempat tersebut, terdapat sebuah masjid yang unik yang berdiri di atas sebuah pulau buatan. Masjid Selat Malaka! Untuk mencapai tempat ini, biasanya orang-orang akan menggunakan mobil atau menggunakan Bus Pariwisata, tidak ada transportasi umum yang bisa digunakan kala itu, kecuali taksi. Saya memutuskan untuk berjalan kaki ke tempat ini sejauh 9 KM pulang pergi dari tempat saya menginap, ditemani oleh suara burung gagak, terbakar panas matahari, dan merasakan semilir angin yang berhembus dari tiap arah mata angin.

Masjid Selat Malaka

Masjid yang mulai dibangun pada bulan Juni 2003 dan diresmikan pada tanggal 24 November 2006 ini mempunyai minaret setinggi 30 meter yang menjulang tinggi. Selain itu, hal menarik lain dari masjid ini adalah ianya dibangun di atas permukaan laut, mirip seperti masjid terapung yang ada di Jeddah, Arab Saudi.

Masjid Selat Malaka
Masjid Selat Malaka dengan Minaretnya yang Menjulang Tinggi

Hal yang begitu saya ingat ketika melaksanakan sholat di tempat ini adalah suasana ketenangan dan kedamaiannya, yang diselangi dan disulami oleh hembusan bayu Selat Malaka, sungguh sangat menyejukkan jiwa dan raga.Dan ini adalah pengalaman unik saya ketika berada di Malaka. Saya bisa berdiri di garis batas di satu sisi, di dalam masjid yang begitu mempesona, memandangi negeri Indonesia yang berada di sisi yang lain.

Masjid Selat Malaka

Waktu Magrib tiba, selesai melaksanakan sholat, saya pun bergegas berjalan kembali ke tempat penginapan. Suasana sekitar terlihat gelap mencekam, tidak ada penerangan mencukupi, cukup menyeramkan sebetulnya untuk berjalan kaki seorang diri, namun, saya harus tetap meneruskan perjalanan saya.

Masjid Selat Malaka di Waktu Malam
Masjid Selat Malaka di Waktu Malam | Kredit : eugene_wee89

#Google Maps

Comments

comments